16 Juli 2009

Puluhan Pelajar di Timika Terinfeksi HIV

Sebanyak 38 orang pelajar SLTP dan SLTA di Timika, Papua, dinyatakan positif tertular virus HIV. Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Mimika, Reinold Ubra, kepada ANTARA di Timika, Senin mengatakan, semakin tingginya angka penularan kasus HIV/AIDS pada generasi muda usia produktif terutama pelajar menimbulkan keprihatinan dan kekhawatiran bagi pemerintah daerah setempat.

“Pemerintah Daerah sangat prihatin dengan terus meningkatnya angka penularan kasus HIV/AIDS di kalangan generasi muda terutama pelajar. Jika kondisi ini tidak segera diatasi dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi generasi muda dan masa depan daerah,” tutur Ubra.

Menurut dia, temuan kasus HIV positif pada sejumlah pelajar di Timika diketahui dari hasil pemeriksaan darah secara sukarela yang dilakukan pada sejumlah klinik Voluntary Conseling and Testing (VCT) di Timika.

Berdasarkan data terbaru yang dikeluarkan KPAD Mimika, jumlah kasus HIV/AIDS di wilayah ini hingga akhir Desember 2008 lalu mencapai 1.793 kasus atau bertambah 48 kasus baru dari periode September 2008. Tiga dari 48 kasus HIV baru tersebut menimpa pelajar SMA dan seorang lagi di antaranya merupakan anak-anak yang baru berusia dua tahun.

Temuan kasus HIV pada anak tersebut diduga kuat ditularkan dari sang ibu. Selain meningkatnya kasus HIV positif pada pelajar, Reinold juga membeberkan data tingginya penyebaran kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) terutama penyakit sifilis pada generasi muda di Timika.

Dari hasil observasi yang dilakukan KPAD Mimika, kasus sifilis banyak ditemukan pada pelajar SLTP hampir di semua kampung di wilayah Distrik Mimika Tengah, Mimika Barat, Mimika Barat Tengah dan Mimika Barat Jauh, yang jaraknya jauh dari kota Timika, ibukota Kabupaten Mimika.

“Hal ini menjadi pertanyaan kami mengapa anak-anak SLTP di kampung-kampung yang jauh dari pusat kota itu tertular penyakit itu, sudah pasti kasus ini ditularkan melalui perantaraan orang ketiga,” ungkap Ubra.

Menyikapi kondisi tersebut, KPAD Mimika mendorong Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Pendidikan dan Pengajaran (P dan P) mulai tahun ajaran baru mendatang agar menerapkan kurikulum pendidikan kesehatan reproduksi menjadi muatan lokal pada sekolah-sekolah (SLTP dan SLTA) di wilayah Mimika.

Kurikulum pendidikan kesehatan reproduksi sangat mendesak untuk segera diimplementasikan mengingat anak-anak usia sekolah lanjutan memasuki masa akil balik sudah mulai mempelajari bahkan ada yang sudah mempraktekan hubungan biologis dengan lawan jenisnya tanpa mengetahui efek samping dari aktivitas haram yang hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri sah tersebut.

Selain itu, kata Ubra, orang yang sudah terinfeksi penyakit sipilis memiliki resiko yang lebih besar tertular HIV/AIDS lima hingga 10 kali dibanding dengan orang yang belum tertular.

KPAD Mimika juga merencanakan untuk melakukan pemeriksaan darah secara sukarela kepada masyarakat Mimika hingga ke pelosok-pelosok wilayah pedalaman dan wilayah pesisir setempat. Dalam tahun ini, KPAD Mimika menargetkan akan melakukan pemeriksaan darah terhadap 8.000 warga Mimika. [ANTARA , 16 Februari 2009]

Tanggapan:
Oleh Syaiful W. Harahap


Berita ini sama sekali tidak memberikan informasi tentang cara-cara penularan dan pencegahan HIV sehingga pembaca tidak mendapat gambaran yang akurat tentang HIV/AIDS. Padahal, salah satu sumber informasi terkait HIV/AIDS adalah berita.

Berita ini mengesankan kasus infeksi HIV di kalangan pelajar menjadi masalah besar. Padahal, infeksi HIV di kalangan dewasa jauh lebih ‘berbahaya’ karena mereka akan menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat. Yang beristri akan menularkan HIV ke istrinya. Kalau istrinya tertular maka ada risiko penularan kepada bayi yang dikandung istrinya kelak. Bisa pula mereka menularkan HIV ke pasangan seks lainnya, seperti pekerja seks, pacar atau selingkuhan.

Dalam berita disebutkan “ .... dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi generasi muda dan masa depan daerah.” Yang mengkhawatirkan adalah kasus infeksi HIV dan IMS di kalangan dewasa, terutama yang beristri. Celakanya, tidak ada mekanisme yang bisa memaksa laki-laki dewasa untuk menjalani tes HIV. Kasus infeksi HIV di kalangan laki-laki dewasa merupakan ‘bom waktu’ ledakan kasus AIDS di masa yang akan datang.

Disebutkan pula “ .... kasus sifilis banyak ditemukan pada palajar SLTP hampir di semua kampung .... yang jaraknya jauh dari kota Timika, ibukota Kabupaten Mimika.” Selanjutnya disebutkan “ .... sudah pasti kasus ini ditularkan melalui perantaraan orang ketiga.” Ini mengesakan ada yang datang ke kampung-kampung untuk menularkan IMS dan HIV kepada palajar-pelajar yang terdeteksi mengidap IMS dan HIV itu. Ini menyesatkan karena tidak sesuai dengan fakta.

Jika pekerja seks di Mimika ada yang terdeteksi mengidap IMS atau HIV atau kedua-duanya maka ada dua kemungkinan. Pertama, kasus IMS dan HIV di kalangan pekerja seks ditularkan oleh laki-laki, remaja dan dewasa, penduduk Mimika atau pendatang. Jika ini yang terjadi maka penduduk Mimika sudah ada yang mengidap IMS dan HIV. Kedua, pekerja seks yang terdeteksi mengidap IMS dan HIV di Mimika sudah tertular HIV sebelum ‘praktek’ di Mimika.

Kedua kemungkinan ini tetap menjadi ancaman bagi penduduk Mimika dan pendatang untuk tertular IMS atau HIV atau kedua-duanya sekaligus bagi yang melakukan hubungan seks dengan pekerja seks tanpa kondom.

Disebutkan pula “ .... bahkan ada yang sudah mempraktekan hubungan biologis dengan lawan jenisnya tanpa mengetahui efek samping dari aktivitas haram yang hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri sah tersebut.” Pernyataan ini mengandung pesan moral yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan penularan HIV.

Inilah yang sering menyesatkan sehingga mengaburkan fakta medis tentang HIV/AIDS. Akibatnya, masyarakat hanya memahami HIV/AIDS sebagai mitos belaka yang akhirnya membawa celaka bagi masyarakat.

[Sumber: Newsletter ”InfoAIDS” edisi No. 5/Maret 2009]